Di sana ada banyak batu saya lihat. Beribu-ribu jumlahnya, terhampar
luas diseluruh permukaannya. Di sana juga terdapat 4 sudut pemandangan
yang tiap-tiap sudutnya memiliki kelemahan dan keunggulannya
masing-masing. Namun pengunjungnya cenderung melihat antara 2 sudut
pandang. Yang satu sudut ke arash gunung yang menjulang tinggi. Yang
satu lagi sudut ke arah lautan yang luas.
Suatu hari ada pengunjung datang kesana. Dia seorang anak. Hidup
sendiri dalam kesehariannya. Dia berparas biasa saja, berkulit rada
kecoklatan, dengan tangan selalu mengangkat keranjang.
Di dalam keranjang itu terdapat 2 wadah. Satu botol dan yang satu kantung plastik.
Dia begitu terpana melihat keindahan dua pemandangan itu. Lautan yang biru dan pegunungan yang tinggi.
Lalu anak itu duduk dan termenung sebentar. Dia memiliki mimpi untuk
dapat mengantongi gunung dan menyimpan air laut dalam botolnya, karena
dia berpikir air laut dapat menghilangkan hausnya, pegunungan dapat
mengenyangkannya.
Lalu, beberapa lama kemudian, anak ini merasa lapar dan haus. Anak
ini berlari menuju laut untuk menyimpan air tersebut dalam botolnya dan
meminumnya. Kemudian dia teguk sedikit. Ternyata dia memuntahkannya. Dia
tak tahu seberapa asinnya air laut tersebut.
Kemudian dia teringat akan rasa laparnya. Dia berlari ke gunung dan
mencari buah disana. Namun baru setengah perjalanan dia sudah tak mampu
meneruskan perjalanannya.
Anak itupun sudah kehabisan tenaga. Dengan bersusah payah dia berusaha bangkit dari rasa lelahnya dan kembali ke tempat tadi.
Dari sana dia melihat 2 pemandangan baru. Rupanya, selama dia melihat
lautan dan gunung yang berada didepannya, air tawar segar dan
buah-buahan berada di belakangnya. Pemandangan tersebut tidak terlalu
indah. Pemandangan tersebut tidak terlalu melukiskan kemegahan alam.
Namun pemandangan tersebut membagi hasilnya dari dekat. Pemandangan
tersebut tak megah ketika dilihat namun nikmat ketika dirasakan.
No comments:
Post a Comment