Thursday, 9 August 2012

Kisah si Bocah

Di sana ada banyak batu saya lihat. Beribu-ribu jumlahnya, terhampar luas diseluruh permukaannya. Di sana juga terdapat 4 sudut pemandangan yang tiap-tiap sudutnya memiliki kelemahan dan keunggulannya masing-masing. Namun pengunjungnya cenderung melihat antara 2 sudut pandang. Yang satu sudut ke arash gunung yang menjulang tinggi. Yang satu lagi sudut ke arah lautan yang luas.
Suatu hari ada pengunjung datang kesana. Dia seorang anak. Hidup sendiri dalam kesehariannya. Dia berparas biasa saja, berkulit rada kecoklatan, dengan tangan selalu mengangkat keranjang.
Di dalam keranjang itu terdapat 2 wadah. Satu botol dan yang satu kantung plastik.
Dia begitu terpana melihat keindahan dua pemandangan itu. Lautan yang biru dan pegunungan yang tinggi.
Lalu anak itu duduk dan termenung sebentar. Dia memiliki mimpi untuk dapat mengantongi gunung dan menyimpan air laut dalam botolnya, karena dia berpikir air laut dapat menghilangkan hausnya, pegunungan dapat mengenyangkannya.
Lalu, beberapa lama kemudian, anak ini merasa lapar dan haus. Anak ini berlari menuju laut untuk menyimpan air tersebut dalam botolnya dan meminumnya. Kemudian dia teguk sedikit. Ternyata dia memuntahkannya. Dia tak tahu seberapa asinnya air laut tersebut.
Kemudian dia teringat akan rasa laparnya. Dia berlari ke gunung dan mencari buah disana. Namun baru setengah perjalanan dia sudah tak mampu meneruskan perjalanannya.
Anak itupun sudah kehabisan tenaga. Dengan bersusah payah dia berusaha bangkit dari rasa lelahnya dan kembali ke tempat tadi.
Dari sana dia melihat 2 pemandangan baru. Rupanya, selama dia melihat lautan dan gunung yang berada didepannya, air tawar segar dan buah-buahan berada di belakangnya. Pemandangan tersebut tidak terlalu indah. Pemandangan tersebut tidak terlalu melukiskan kemegahan alam. Namun pemandangan tersebut membagi hasilnya dari dekat. Pemandangan tersebut tak megah ketika dilihat namun nikmat ketika dirasakan.

No comments:

Post a Comment